Kehidupanku
Pada tanggal
22 November 1997, disuatu keluarga kecil di sebuah kota yang kecil lahirlah
seorang anak laki-laki bernama Rizki
Wira Pratama. Anak laki-laki yang akrab disapa Rizki tersebut tidak lain adalah
saya. Saya adalah anak pertama dari pasangan Ramlan Hattasomi dan Wita
Mahdalena. Sejak lahir saya dibesarkan di kota kecil bernama Bengkulu. Disana
saya menempuh pendidikan dari TK, hingga jenjang menengah pertama. Beranjang
dewasa saya mendapatkan kesempatan merantau bersekolah di pulau seberang
bernama pulau jawa disebuah kota belimbing bernama kota Depok. Hidup
diperantauan membuat saya lebih banyak mengetahui makna dari sebuah kehidupan.
Tidak ingin berpindah dari kota Depok, usaha saya untuk masuk ke universitas
ternama di Indonesia tercapai. Di jenjang perguruan tinggi saya bisa mengenyam
pendidikan di Universitas Indonesia.
Dapat belajar
di universitas ternama tidak jauh dari usaha dan doa kedua orang tua saya.
Orang tua saya berasal dari keluarga yang sederhana. Keluarga ayah berasal dari
desa pelosok di provinsi Bengkulu bernama Kayu Elang. Keluarga ibu berasal dari
desa kecil bernama Masmambang. Dari dua keluarga sederhana tersebut muncullah
sebuah keluarga baru yang beranggotakan lima orang. Ayah, Ibu, saya, dan kedua
adik saya yang sudah mulai beranjak dewasa. Zafarullah Ahmad adalah adik laki
laki saya. Selisih usia enam tahun membuat kami lebih akrab. Lathifa Rahmadhani
adalah adik perempuan saya yang terpaut sebelas tahun. Kedua adik saya tinggal
bersama ayah dan ibu serta masih menempuh pendidikan mereka di Bengkulu.
Mempunyai dua
orang adik yang usianya terpaut jauh dari saya, membuat saya menjadi sebagai
kepala rumah tangga kedua setelah ayah. Ayah selalu menasihati saya untuk
belajar bagaimana hidup susah karena jika hidup enak semua orang bisa dan tidak
perlu belajar lagi. Dari nasihat tersebut saya tahu bahwa keluarga saya banyak
menggantungkan harapan mereka dipundak saya. Mereka berharap saya dapat menjadi
panutan dan teladan bagi kedua adik saya dan nantinya mampu untuk menggantikan
mereka apabila usia mereka semakin menua. Harapan dari mereka lah yang membuat
warna di hari-hari saya dan menjadi motivasi saat saya sedang kehilangan
semangat.
Berawal dari
harapan orang tua untuk melihat anaknnya sukses, dari sana saya mulai bermimpi
untuk menjadi agen perubahan bagi keluarga dan bangsa. Mimpi pertama saya
adalah menjadi seorang ilmuan terkenal di Indonesia. Dari mimpi itulah saya
mulai rajin belajar sejak sekolah menengah pertama. Di sana saya mulai
memperdalam ilmu matematika untuk mencapai tingkat kejuaran nasional yaitu
olimpiade sains nasiolal. Belajar hingga orang-orang tertidur dan kembali lagi
belajar sebelum orang-orang terbangun. Rutinitas yang terus saya lakukan selama
menempuh pendidikan di bangku menengah pertama tersebut. Selain melakukan usaha
maksimal, tidak lupa saya iringi dengan doa. Berkat usaha dan doa, tahap demi
tahap pun saya lalui, mulai dari tingkat kota, beradu cerdas di tingkat
provinsi dan akhirnya sampai di titik akhir yaitu tingkat nasional. Di tingkat
nasional saya pun belum puas disana. Ambisi dan harapan pun semakin besar,
membayangkan diri saya meraih medali emas dan dapat mewakili Indonesia di
kancah internasioal. Tetapi, nasib berkata lain, takdir belum memperbolehkan
saya untuk mewakili Indonesia di kancah internasional. Dari kegagalan itulah
saya belajar dan terus untuk mepebaiki diri. Kontribusi untuk Indonesia tidak
hanya sekedar mengharumkan nama indonesia di dunia internasional tetapi masih
banyak aspek-aspek yang dapat kita lakukan.
Salah satu
aspek kontribusi nyata yang dapat dilakukan bagi seorang pemuda adalah ikut
mencerdaskan generasi penerus-penerus bangsa. Karena sesuai dengan salah satu
tujuan bangsa Indonesia yang tercantum dalam pembukaan undang-undang dasar 1947
yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bermulai dari cita-cita kecil itulah saya
mulai untuk menawarkan diri sebagai pengajar bagi siswa-siswi dari sekolah
dasar hingga sekolah menengah atas. Hal ini merupakan salah satu kegiatan yang
sedang saya lakukan sambil menyelesaikan pendidikan strata satu di universitas
Indonesia. Karena salah satu dari tiga tridarma perguruan tinggi adalah
pengabdian kepada masyarakat. Dengan mengabdi kepada masyarakat dan berbagi
ilmu kepada para generasi muda kita telah mengamalkan tridarama perguruan
tinggi dan telah berkontibusi nyata untuk Indonesia serta dapat membuat jiwa
kepedulian sosial kita bertambah.
Disamping
mengisi waktu dengan berbagi ilmu, saya juga aktif didalam salah satu kegiatan
mahasiswa yaitu TRUI. TRUI merupakan singkatan dari Tim Robotika Universitas
Indonesia. Di tim robotika saya ikut berkontribusi dalam penelitian dan
pengembangan robot sepakbola beroda. Penelitian dan pengembangan merupakan
nilai kedua di dalam tridarma perguruan tinggi. Dengan terus melakukan
penelitian dan pengembangan terkhusus pada dunia teknologi, saya memiliki
cita-cita untuk memajukan teknologi digital yang ada di Indonesia. Di era
modern seperti saat ini, kemasyuran teknologi suatu negara merupakan salah satu
aspek dari kemajuan suatu negara. Di masa yang akan datang kemajuan teknologi
akan semakin pesat dan berkembang luas. Oleh karena itu, ketika saya nanti
telah terjun ke masyakat, saya akan membuat Indonesia menjadi negara digital.
Dengan semua
keunggualan dan rencana masa depan yang telah saya persiapkan, saya yakin
bersama beasiswa bazma pertamina saya dapat mewujudkannya.
No comments:
Post a Comment